
Sesi belajar menulis PGRI kali ini dibersamai oleh Pak Suharto,S.Ag., M.Pd. Beliau adalah seorang guru agama di lingkungan Kemenag dan menariknya justru semangat menulis dan buku karya yang beliau hasilkan muncul di kala beliau sedang mengalami sakit. Sungguh perjuangan yang luar biasa dan menjadi pelajaran berharga terutama bagi saya yang sehat tapi malas menulis. Saya salut sekali akan semangat Pak Suharto dalam menulis, apalagi beliau sangat produktif menulis saat sakit dan bisa menginspirasi banyak orang. Semangat untuk selalu berkarya dan mengambil hikmah dari kejadian yang dialami betul betul sangat menyentuh dan menginspirasi.
Pak Suharto menceritakan awal beliau bergelut dengan dunia literasi atau dunia Menulis yaitu ketika mengikuti pelatihan PTK sekitar tahun 2015-2016. Setiap liburan sekolah, beliau akan mencari pelatihan walaupun berbayar dan lokasinya jauh dari rumah beliau. Beliau bahkan harus meninggalkan rumah berhari hari, namun dari hasil pelatihan tersebut, beliau bisa menghasilkan PTK dan buku antologi. Buku solo pertama beliau dengan judul "Mengejar Azan" juga beliau hasilkan dari sebuah pelatihan Media guru di Cipanas tahun 2017. Buku ini bercerita tentang perjalanan hidup dalam menuntut ilmu.

Buku Mengejar Azan
Seteah itu, pada tahun 2018 beliau mengalami sakit yang membuat beliau lumpuh dan hampir 3 semester mengambil cuti dari sekolah. Namun, setelah satu setengah tahun, beliau mulai bisa menggerakkan anggota badan beliau dan mulai menulis lagi dengan motivasi agar hidup beliau bermanfaat untuk orang lain. Beliau menulis apa yang beliau bisa dan kuasai dengan bahasa yang sederhana, terutama tentang penyakit yang beliau alami dan beliau menulis artikel bertema Motivasi. Beliau benar- benar memaksimalkan waktu beliau untuk menulis, di waktu pagi, dan ketika akan tidur, di sela sela menunggu dokter , bahkan sambil terapi digunakan untuk menulis. Jika beliau kehabisan ide untuk menulis, maka beliau akan membaca buku, atau melakukan kegiatan lainnya seperti menonton Youtube, TV bahkan mendengarkan Lenong Betawi.
Berikut Tips Menulis menjadi Buku ala Pak Suharto
- Menulis apa yang kita bisa dan kuasai. Menulis apa yang kita bisa akan memudahkan kita untuk menulis. Mulailah dengan satu paragraf terlebih dahulu. Tidak usah terlalu panjang. Gunakan bahasa yang sederhana, yang terpenting bisa dibaca dan dipahami.
- Mulailah dari apa yang pernah kita alami. Menulis yang pernah kita alami, maka menulisnya lebih mudah tanpa harus mengeluarkan energi yang menguras pikiran. Contoh buku perdana dan kedua Pak Suharto itu isinya adalah apa yang beliau alami. Tentunya terstruktur dengan baik sesuai urutan peristiwa.
- Membuat tema agar focus dalam tulisan. Mengambil dari pernyataan pak Akbar Zaenudin, menulis harus membuat tema terlebih dahulu hingga seluruh isi buku temanya sama. Misal tentang motivasi, traveling, kuliner, dll. Buku ketiga pak Suharto itu buku motivasi dan kebetulan beliau mengambil dari tulisan diblog beliau. Tulisan diblog beliau edit kembali lalu dimasukkan rumus 5 W +1 H.
- Harus membuat target dalam menulis. Pak Suharto menceritakan buku ke 2 dan ke 3 beliau itu dihasilkan dengan membuat target terlebih dahulu, dan beliau targetkan tahun 2020 buku harus terbit. Alhamdulillah, dalam waktu 5 bulan, buku beliaupun terbit.
- Harus mempunyai semangat. Jangan berharap apa yang kita inginkan akan tercapai, j ika tidak ada faktor semangat. Semangat yang membuat Pak suharto mampu untuk menyelesaikan tulisan menjadi sebuah buku.
Sesi belajar selanjutnya dianjutkan dengan tanya jawab, berikut beberapa pertanyaan beserta jawaban pak Suharto
- Bagaimana cara menjaga semangat menulis agar tetap membara? Pak Suharto menjawab bahwa beliau ingin menjadi kebanggaan murid-murid, anak keturunan dan teman beliau. Maka harus ada karya yang beliau hasilkan agar mereka percaya. Beliau juga ingin berbagi ilmu dan menjadi income pasive jika beliau sudah tiada
- Apa yg memotivasi Cang Ato ketika dalam kondisi terpuruk sakit masih berkeinginan menulis? pak Suharto menjawab, selagi masih ada kesempatan jadi beliau berpikir harus melakukan sesuatu yang bermanfaat untuk diri sendiri dan orang lain. Tentu saja melalui apa yang beliau bisa dan menulis adalah sarana untuk beliau bisa menginspirasi dengan menulis tentang motivasi hidup. Maka setiap tulisan beliau memiliki ruh yang bisa menggerakkan orang untuk melakukan hal yang positif.
- Siapa saja yang mendukung cang Ato dalam menulis? Semua keluarga beliau sangat mendukung beliau dalam menulis.
- Apa yang menginspirasi Cang Ato hingga menelurkan karya luar biasa di kala sedang sakit? Pak Suharto menyatakan bahwa sebagai guru, untuk bisa mengajak orang berbuat baik, maka terlebih dahulu kita harus berbuat baik. Begitu juga jika kita ingin murid kita belajar yang rajin, maka kita dahulu yang rajin. Kalau kita memerintahkan murid berprestasi dan berkarya, maka kita dahulu yang berkarya. Guru hebat itu bukan guru yang mengusai materi dan metodologi, tapi yg mampu menginspirasi lewat karya-karyanya.
- Di saat kondisi sperti ini berapa jamkah sehari bisa fokus untuk menulis ? Pak Suharto menyampaikan bahwa beliau meluangkan waktu untuk menulis, karena setiap orang memiliki daya tahan menulis yang berbeda beda. Beri waktu luang untuk menulis, jangan menulis kalau ada waktu luang. pak Suharto menyatakan bahwa beliau menulis setiap hari, dan tempatnya di mana saja. Beliau juga menyatakan "Tidak ada yang tidak bisa di dunia ini. Yang terpenting bagi kita belajar, belajar, dan terus belajar' Sesuai dengan judul buku beliau "Belajar tak Bertepi".
- Bagaimana memulai menulis yang kadang idenya dapat mau dituangkan selama menulis sering balapan?Menurut Pak Suharto, biasanya beliau merenung tentang apa yang akan beliau tulis, mialnya tentang motivasi, kemudian beliau memfokuskan pada satu topik yang beliau sukai, dan mulai dengan sub temanya misalnya sabar, kemudian barulah muai dengan cerita, misalnya cerita tentang kesabaran nabi Ayub, barulah membuat point point penting tentang cerita tersebut seperti: Pentingnya sabar, Arti sabar, dan Langkah menuju kesabaran. Menurut beliau ide cukup 1 saja.
Berikut kesimpulan Pak Suharto pa da akhir sesi belajar menulis PGRI yang patut menjadi perenungan dan inspirasi bagi kita" Kesuksesan bukan milik orang-orang cerdik pandai. Tetapi kesuksesan kepunyaan orang-orang mau berusaha lagi tekun. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Jika pekerjaan itu banyak orang bisa, pasti kita bisa. Jangan menunggu pintar baru Menulis. Menulislah dahulu pada menjadi pintar".
Menulislah setiap hari, luangkan waktu untuk Menulis setiap hari, Mulailah dari apa yang kita sukai dan kita ketahui, mulailah dengan bahasa sederhana walaupun hanya 1 paragraf.
Komentar
Posting Komentar